Widget HTML Atas

Ada Cinta Di balik Panggilan Kakak-Adik

Banyak anak muda yang mengira bahwa kakak-adikan itu baik-baik saja. Tidak ada nasab atau hubungan darah tetapi malah menjelma menjadi dua kaka-adik yang sangat akrab. Sebutan ini begitu sering kita dengar dan kita lihat di kalangan remaja. Seakan-akan sudah menjadi hal wajar di antara mereka.

Panggilan kakak-adik ini terlahir karena mereka paham bahwa pacaran itu haram, tetapi mereka mencari celah  dari sekian banyak larangan-larangan itu. Bagaimana caranya agar tetap bisa berhubungan tetapi tidak dalam kerangka pacaran.

Kalau anak itu cakep di anggap adik, tetapi kalau anak itu tidak cakep, meski adik kandung pun tidak di anggap, sungguh kejamnya dirimu kakak.!

Setiap anak muda apalagi ABG pastinya hidupnya identik dengan cinta/asmara. Itu juga yang terjadi pada diriku di masa SMA yang masih belajar tentang cinta, yang pada akhirnya harapan itu harus dipendam dalam-dalam. Bukan karena putus cinta, di khianati ataupun di sakiti tapi karena janji pada diri sendiri untuk tidak pacaran.

Sebelumnya kami mengenal melalui media sosial tapi entah bagaimana kepercayaanku begitu besar padanya. Yang awalnya hanya sekedar simpati hingga akhirnya jatuh hati padanya.

Kisah itu cukup unik dan menarik sebuah cinta yang ditorehkan di lembaran-lembaran binder miliknya, sebuah curhatan, masalah dan juga solusi ada disana. Hal yang cukup baik untuk menjaga jarak karena sebenarnya memang aku tak mampu untuk menatap dirinya. Selalu begitu dan terus begitu setiap dekat dengan orang yang aku cintai, Ah lebay ! haha. Tapi ya begitulah adalanya.

Karena pacaran tak memungkinkan. Aku memilih untuk adik sebagai sebutan untuk dirinya dan kakak sebagai sebutan diriku untuknya. Dengan begitu, aku tidak takut kehilangan dirinya dan tetap bisa selalu dekat denganya  bukan sekedar jarak tapi juga hatinya.

Dengan begitu hubungan kami lebih bertahan lama dan tidak takut dengan kata "PUTUS". Bisa selalu memberi masukan atau nasehat jika dirasa itu perlu dan juga bisa terus membantu jika memang masih dalam kemampuan.

Mulanya kakak adik ini hanya agar diri tetap dekat denganya. Berjalanya waktu ada sebuah perasaan tanggung jawab yang lebih penting tentang perasaan sebagai kakak yaitu melindungi dan menjadikannya lebih baik.

Akhirnya aku belajar untuk tidak berusaha memilikinya. Tapi sebaliknya berusaha membuat dirinya lebih baik dengan cara ku dan memberikan solusi terhadap masalah-masalah apapun yang ia alami.

Disinilah aku mulai mengerti bagaimana mencintai tanpa harus memiliki, belajar ikhlas dan melihat dari semua sisi kehidupan. Belajar tentang sebuah ketulusan tanpa meminta imbalan terhadap hal baik yang sudah kita lakukan.

Panggilan kakak selalu aku dengar dari setiap chatingan antara aku dan dia. Aku selalu menjaga kalimat dan memilih kata yang tepat untuknya. Berusaha netral dan tanpa memberikan makna lebih hanya sekedar rasa sayang seorang kakak untuknya.

Sering memang mendapati curahan hatinya tentang berbagai hal, seperti masalah keluarga sampai soal asmara. Meskipun aku mencintainya disini aku harus belajar menghilangkan semua perasaan itu dan bersikap sewajarnya kakak baginya. Sehingga mampu melihat dengan sudut yang lebih baik dalam memberikan solusi terhadap masalah yang ia hadapi.

Hingga munculah perasaan tidak enak jika suatu saat ingin memiliki hatiya karena sudah terlanjur di anggap kakak dan sudah terlalu akrab. Tapi hal tersebut sebenarnya tidak menjadi masalah sebab kita tidak ada hubungan darah ataupun nasab. Jadi sebenarnya kita menikah pun tetap sah.

Berbagai hal telah terjadi, dan seiring berjalannya waktu aku tidak hanya sekedar punya 1 adik saja tapi bertambah lebih banyak lagi. Bahkan ada juga dia yang mencintaiku. Sesuai janjiku bahwa aku tidak akan pacaran dan hanya akan menikah untuk menghalalkan pasangan hidup. Karena saat ini belum siap jadi menjadi teman biasa adalah yang terbaik.

Setelah tidak hanya satu wanita yang mengisi cerita hidupku. Aku menyadari bahwa seiap orang memiliki pengalaman hidup yang berbeda-beda. Setiap orang memiliki ceritanya masing-masing, memiliki orang yang berarti dalam hidupnya yang tidak sama satu dengan yang lain.

Jadi tidak mungkin diri memaksakan untuk terus mencintainya sedangkan dia tidak menginginkan kita menjadi pasangan hidupnya. Selain itu setiap dari mereka memiliki kisah cintanya masing-masing. Mungkin bukan kita yang menjadi prioritas dan selalu orang yang ia cintai menjadi topik utama dalam ceritanya. Tapi jangan sedih karena itu memang haknya.

Saat seperti itu tak baik bagi kita mencapuri dan merusak hubunganya ataupun mejadi sandungan bagi mereka. Meskipun kita tahu ada sebuah hubungan terlarang yang diharamkan dalam islam yaitu pacaran. Jika kita bisa menasehati cukup nasehati saja. Semua keputusan tergantung pada dirinya.

Banyak hal yang aku pelajari saat menjadi kakak untuk mereka, dan tidak membedakan satu dengan yang lain. Dan pada akhirnya diantara mereka tidak satu pun menjadi spesial. Karena tujuan akhir saat bisa menyadari itu semua justru belajar memperbaiki diri dan memantaskan diri adalah hal utama.

baca juga : Fenomena adik kakak

Jika nanti di antara mereka salah satunya jodohku maka aku sangat bersyukur dan jika Allah memiliki rencana lain. Aku juga sudah siap dengan semua itu karena pada akhirnya ridho dariNya adalah yang menjadi tujuan menjalani hidup ini bukan memaksa cinta tapi membiarkan cinta itu tumbuh dengan sendirinya dalam ikatan yang halal.